Oleh: altamis | Januari 8, 2008

Catatan si Buleng..

Semriwing. Tahu artinya? Entah baku atau tidak, tapi, menurut pengetahuan saya sih, artinya semerbak. Sejak diantar ke rumah pertama kali, sampai sekarang, semriwing si Buleng, begitu saya menjuluki Karisma saya, masih tercium. Ikatan bathin kali ya?           Mungkin, ini mungkin ya, si Buleng beserta semriwing-nya itu adalah pembuka jalan bagi hidup saya, terutama rezeki dan asmara. Bagaimana tidak? Si Buleng lah yang membawa gairah baru bagi saya dalam bekerja dan pacaran, hehehe.. Si Buleng pula yang akhirnya membawa saya ke sebuah kehidupan baru pada Februari tahun lalu. Tak main-main, demi mendapatkan permaisuri, saya dan si Buleng menyingkirkan seorang bankir bersedan mewah, BMW cing! Bangga? Tentu saja! Sekaligus heran juga sih. Koq mau ya permaisuri saya itu? Pengen tahu jawabannya? Hanya permaisuri saya saja yang berkompeten untuk menjawab. Atau, ada minat untuk bertanya pada si Buleng? Sok atuh, dia saksi kuncinya, hehehe…           

Bagai Catatan Hidup

Nah, sekarang serius mode on. Bulan lalu, ketika mengantar permaisuri ke kantor, kami berpapasan dengan seorang pahlawan. Siapakah? Beliau pengoleksi sampah komplek. Kenapa saya sebut pahlawan? Karena bagi orang-orang komplek yang cenderung individualis, keberadaan beliau bak seorang pahlawan. Apalagi, jika sampah sudah menumpuk! Ini menurut saya lho. Untuk bekerja, beliau sangat tergantung dengan gerobaknya. Nah, begitu pula dengan saya. Si Buleng juga bagian hidup saya. Perannya sama pentingnya seperti gerobak bapak pahlawan tadi. Bila diperinci, si Buleng memiliki semua bagian yang mencatat perjalanan hidup saya. Kira-kira, gambarannya seperti ini: 

Lampu depan dan belakang: Ibarat sebuah mata. Siang dan malam, mata si Buleng merekam ke mana saya mengendarainya. Sama seperti mata saya tho, yang menjadi perekam pertama ketika melihat sesuatu sebelum disalurkan ke otak atau pikiran. 

Speedometer: Ibarat sebuah peringatan akan nafsu. Jarum yang bolak-balik menunjukkan batas kecepatan, mengingatkan saya betapa begitu cepatnya waktu berjalan. Cepatnya waktu karena saya kadang sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadi, saya pelankan kecepatan! Nikmati hidup!   

Penunjuk Kilometer: Ibarat sebuah catatan perjalanan. Angka kilometer menunjukkan betapa si Buleng setia menemani saya bermotor sedekat dan sejauh apa pun. Mengingatkan saya, pencapaian apa yang sudah saya dapat selama saya hidup. Semakin jauh si Buleng berjalan, semakin rentan rusak dia. Demikian pula kita, semakin jauh perjalanan hidup, semakin renta saya. 

Stang dan foot step: Ibarat tangan dan kaki. Kendali dan keseimbangan terletak di dua bagian ini. Mengingatkan saya akan peran penting tangan dan kaki sebagai penyeimbang bagi tubuh di kala belajar berdiri. 

Jok: Ibarat sebuah kenyamanan. Mengingatkan saya akan pentingnya sebuah kenyamanan baik di rumah maupun di jalan. Semakin empuk jok si Buleng, makin betah “dapur” saya untuk mendudukinya, maklum, agak lebar “dapur”nya. 

Roda: Ibarat roda kehidupan. Mengingatkan saya akan kehidupan yang selalu berputar. Suka dan duka pasti menghampiri.

Standar: Ibarat sebuah keyakinan dan keluarga. Memang tidak dominan terlihat, padahal memiliki peran yang tak kalah penting. Standar tetap menjalankan fungsinya menopang keseluruhan tubuh si Buleng. Ibarat keyakinan dan keluarga yang selalu menopang hidup saya. 

Bensin: Ibarat makanan dan minuman. Mengingatkan saya pentingnya asupan energi sehari-hari.  

Mesin: Nah, ini yang paling penting. Ibarat hati dan pikiran saya. Mengingatkan pada semua hal yang sudah saya lakukan. Dan seberapa kuat daya tahan saya mengarungi hidup. Perlu service rutin kan? Idem, saya juga perlu “service”.           Saya yakin masih banyak bagian si Buleng yang bisa kita gali dan kaji. Tapi, menurut saya, beberapa hal di atas sudah cukup mencerminkan betapa si Buleng sudah menjadi bagian dari hidup saya. 

Mengganti Karisma?

Mengganti si Buleng? Belum terpikirkan sampai saat ini. Apalagi jika saya telaah kembali beberapa hal penting si Buleng bagi saya. Mengganti motor yang bermerk Karisma itu ibarat mengganti hidup saya. Lha bagaimana? Hidup koq bisa diganti. Semua catatan hidup saya sejak pertama kali memakainya sampai sekarang nempel di seluruh bagian-bagiannya. Makanya, sampai saat ini saya tidak menggantinya. Saya bilang ke beberapa sobat, mungkin saya menangis jika sampai menjualnya.Sejalan dengan stop produksinya Honda Karisma, terserah, produsen si Buleng mau produksi lagi atau tidak. Karena memang tidak ada korelasinya dengan saya dan si Buleng. Sebagai individu, saya bahagia. Lalu, masalah spare part? Si Buleng itu sepertinya fleksibel. Banyak spare part merk lain yang bisa dikenakan si Buleng, terakhir, saya pasang shock belakang salah satu motor merk lain yang sangat cocok untuk postur tubuh saya yang gambot. Fleksibilitas inilah salah satu kebanggaan saya.Buat produsen si Buleng, terima kasih telah menciptakan motor hitam (silver) yang masih setia ini. Dengan si Buleng pula saya bisa memahami pentingnya kebersamaan dan persahabatan. Semoga kebersamaan dan persahabatan itu dapat menegaskan Anda selaku produsen, bahwa menciptakan Honda Karisma adalah tidak sia-sia.    

Komunitas

Lalu, sebagai pengendara Karisma, bagaimana opini saya mengenai kelangsungan hidup komunitas berbasis Honda Karisma? Ini justru pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Berkaca dari uraian saya di atas, kelangsungan hidup komunitas berbasis Honda Karisma tidak akan punah hanya karena motor tersebut tidak diproduksi lagi. Komunitas itu adalah satu kumpulan orang yang memiliki kebersamaan perasaaan. Perasaan apa? Perasaan yang menganggap Karisma adalah bagian dari hidup. Hasilnya? Tentunya rasa memiliki yang berlebih, tak mengapa tho? Bahagia? Tentu saja! Bayangkan kumpulan pengendara yang bahagia dengan Karismanya masing-masing. Indah bukan? Apa yang sebaiknya komunitas tersebut lakukan agar tetap eksis? Pertama, menjaga kebersamaan. Kedua, bermanfaat bukan hanya bagi anggotanya namun bagi orang banyak. Ketiga, mempertahankan hal pertama dan kedua. Setidaknya, ketiga hal itu yang perlu kita lakukan. Sederhana kan? Sejauh ini, komunitas Karisma dimana saya bernaung, sedang menuju ke arah yang benar, Alhamdulillah.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori