Oleh: altamis | Januari 8, 2008

Objek Wisata di Pandeglang Diserbu Pengunjung

Berbagai objek wisata di Kabupaten Pandeglang, Banten, diserbu pengunjung yang mengisi libur Lebaran bersama keluarga maupun rombongan.Bahkan di sejumlah tempat wisata dipadati pengunjung hingga menyebabkan terjadinya antrean panjang kendaraan.Objek wisata Pantai Carita, misalnya, sejak tiga hari terakhir pengunjung memadati ruas Jalan Labuan-Anyer hingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.“Saya sempat tiga jam macet, padahal sudah memasuki Pasar Labuan dan hanya beberapa kilometer saja datang ke objek wisata Pantai Carita,” kata Jamin (40) warga Tangerang, yang hendak menikmati Pantai Karangsari, Rabu (17/10).Ia mengaku, berangkat dari rumah bersama keluarga sejak pukul pukul 05.00 WIB, namun akibat kemacetan panjang belum berhasil tiba di lokasi wisata pantai Karangsari.Walaupun kondisi jalanan macet, pihaknya tetap merasa senang bisa bermain ke tempat pantai Karangsari karena anak-anak bisa menikmati rekreasi renang.“Objek wisata Carita, Pandeglang yang memiliki daya tarik tersendiri yakni Pantai Karangsari itu mirip pantai Kuta, Bali,” katanya.Ketua Koordinator Keamanan Pantai Carita Enjat, mengatakan, kemacetan terjadi sejak hari Minggu (14/10) hingga Rabu (17/10), kendaraan harus berjalan merayap untuk menuju tempat rekreasi Pantai Carita.Kemacetan tersebut disebabkan oleh padatnya pengunjung yang menggunakan kendaraan bak terbuka, truk, sepeda motor, dan bus.“Diperkirakan hari Rabu ini jumlah pengunjung Pantai Carita mencapai 40 ribu orang,” katanya.Pengunjung juga tampak memadati tempat wisata pemandian Cikoromoy, Kecamatan Batu Bantar, Kabupaten Pandeglang hingga terjadi kemacetan kendaraan sepanjang lima kilometer menuju perempatan Mengger-Cikoromoy.“Kami setiap Lebaran selalu menyempatkan ke Cikoromoy karena di tempat itu kami sekeluarga bisa mandi air dingin pegunungan,” kata Titin (30) warga Kabupaten Lebak.Sementara beberapa petugas Polres Pandeglang, terus bekerja keras mengatur lalu lintas karena sejak satu hari Lebaran hingga Rabu(17/10) jalanan di Pandeglang mengalami kemacetan luar biasa.Ribuan kendaraan yang hendak mengunjungi tempat wisata di Kabupaten Pandeglang , di antaranya pantai Carita, Tanjung Lesung, Air Panas di Taman Gunung Pulau Sari, Pemandian Air Dingin Cikoromoy bahkan obyek wisata Flora dan Fauna di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

“Saya sudah tiga hari ini mengatur lalu lintas di perempatan Mengger karena padatnya kendaraan hingga pengemudi berjalan merayap untuk menuju tempat wisata. Selain itu,dampak kendaraan arus mudik menuju Jakarta,” kata seorang polisi berpangkat Bripda Budi (35). Penasaran kaaann…??

Oleh: altamis | Januari 8, 2008

Ayat Kursi

Bismillahhirahmannirrahim…

ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA’KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA’LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN ‘ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI’A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL ‘ALIYYUL AZHIIM.

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

Keutamaan, kegunaan, manfaat, syafaat, keajaiban, keistimewaan dari ayat kursi surat al-baqoroh ayat 255 antara lain adalah :

1.       Dapat mendatangkan hajat bila dibaca 100 kali pada waktu tengah malam setelah   melakukan shalat sunnat hajat.                      

2.       Dapat mengusir, menghilangkan dan menghindar dari gangguan jin, syetan/setan, makhluk ghoib, makhluk halus dan sebangsanya serta ganngguan dari orang-orang zhalim. Bacalah ayat kursi pada setiap permulaan siang dan malam hari.

2.       Menyembuhkan orang gila dan kerasukan/kesurupan dengan cara membaca 11 kali pada orang gila dengan sambil ditiup-tiupkan.

3.       Penyembuhan segala macam penyakit dengan menulis ayat kursi pada wadah air minum seperti gelas, mangkuk, cangkir, kendi, piring, dan lain-lain

Oleh: altamis | Januari 8, 2008

Catatan si Buleng..

Semriwing. Tahu artinya? Entah baku atau tidak, tapi, menurut pengetahuan saya sih, artinya semerbak. Sejak diantar ke rumah pertama kali, sampai sekarang, semriwing si Buleng, begitu saya menjuluki Karisma saya, masih tercium. Ikatan bathin kali ya?           Mungkin, ini mungkin ya, si Buleng beserta semriwing-nya itu adalah pembuka jalan bagi hidup saya, terutama rezeki dan asmara. Bagaimana tidak? Si Buleng lah yang membawa gairah baru bagi saya dalam bekerja dan pacaran, hehehe.. Si Buleng pula yang akhirnya membawa saya ke sebuah kehidupan baru pada Februari tahun lalu. Tak main-main, demi mendapatkan permaisuri, saya dan si Buleng menyingkirkan seorang bankir bersedan mewah, BMW cing! Bangga? Tentu saja! Sekaligus heran juga sih. Koq mau ya permaisuri saya itu? Pengen tahu jawabannya? Hanya permaisuri saya saja yang berkompeten untuk menjawab. Atau, ada minat untuk bertanya pada si Buleng? Sok atuh, dia saksi kuncinya, hehehe…           

Bagai Catatan Hidup

Nah, sekarang serius mode on. Bulan lalu, ketika mengantar permaisuri ke kantor, kami berpapasan dengan seorang pahlawan. Siapakah? Beliau pengoleksi sampah komplek. Kenapa saya sebut pahlawan? Karena bagi orang-orang komplek yang cenderung individualis, keberadaan beliau bak seorang pahlawan. Apalagi, jika sampah sudah menumpuk! Ini menurut saya lho. Untuk bekerja, beliau sangat tergantung dengan gerobaknya. Nah, begitu pula dengan saya. Si Buleng juga bagian hidup saya. Perannya sama pentingnya seperti gerobak bapak pahlawan tadi. Bila diperinci, si Buleng memiliki semua bagian yang mencatat perjalanan hidup saya. Kira-kira, gambarannya seperti ini: 

Lampu depan dan belakang: Ibarat sebuah mata. Siang dan malam, mata si Buleng merekam ke mana saya mengendarainya. Sama seperti mata saya tho, yang menjadi perekam pertama ketika melihat sesuatu sebelum disalurkan ke otak atau pikiran. 

Speedometer: Ibarat sebuah peringatan akan nafsu. Jarum yang bolak-balik menunjukkan batas kecepatan, mengingatkan saya betapa begitu cepatnya waktu berjalan. Cepatnya waktu karena saya kadang sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadi, saya pelankan kecepatan! Nikmati hidup!   

Penunjuk Kilometer: Ibarat sebuah catatan perjalanan. Angka kilometer menunjukkan betapa si Buleng setia menemani saya bermotor sedekat dan sejauh apa pun. Mengingatkan saya, pencapaian apa yang sudah saya dapat selama saya hidup. Semakin jauh si Buleng berjalan, semakin rentan rusak dia. Demikian pula kita, semakin jauh perjalanan hidup, semakin renta saya. 

Stang dan foot step: Ibarat tangan dan kaki. Kendali dan keseimbangan terletak di dua bagian ini. Mengingatkan saya akan peran penting tangan dan kaki sebagai penyeimbang bagi tubuh di kala belajar berdiri. 

Jok: Ibarat sebuah kenyamanan. Mengingatkan saya akan pentingnya sebuah kenyamanan baik di rumah maupun di jalan. Semakin empuk jok si Buleng, makin betah “dapur” saya untuk mendudukinya, maklum, agak lebar “dapur”nya. 

Roda: Ibarat roda kehidupan. Mengingatkan saya akan kehidupan yang selalu berputar. Suka dan duka pasti menghampiri.

Standar: Ibarat sebuah keyakinan dan keluarga. Memang tidak dominan terlihat, padahal memiliki peran yang tak kalah penting. Standar tetap menjalankan fungsinya menopang keseluruhan tubuh si Buleng. Ibarat keyakinan dan keluarga yang selalu menopang hidup saya. 

Bensin: Ibarat makanan dan minuman. Mengingatkan saya pentingnya asupan energi sehari-hari.  

Mesin: Nah, ini yang paling penting. Ibarat hati dan pikiran saya. Mengingatkan pada semua hal yang sudah saya lakukan. Dan seberapa kuat daya tahan saya mengarungi hidup. Perlu service rutin kan? Idem, saya juga perlu “service”.           Saya yakin masih banyak bagian si Buleng yang bisa kita gali dan kaji. Tapi, menurut saya, beberapa hal di atas sudah cukup mencerminkan betapa si Buleng sudah menjadi bagian dari hidup saya. 

Mengganti Karisma?

Mengganti si Buleng? Belum terpikirkan sampai saat ini. Apalagi jika saya telaah kembali beberapa hal penting si Buleng bagi saya. Mengganti motor yang bermerk Karisma itu ibarat mengganti hidup saya. Lha bagaimana? Hidup koq bisa diganti. Semua catatan hidup saya sejak pertama kali memakainya sampai sekarang nempel di seluruh bagian-bagiannya. Makanya, sampai saat ini saya tidak menggantinya. Saya bilang ke beberapa sobat, mungkin saya menangis jika sampai menjualnya.Sejalan dengan stop produksinya Honda Karisma, terserah, produsen si Buleng mau produksi lagi atau tidak. Karena memang tidak ada korelasinya dengan saya dan si Buleng. Sebagai individu, saya bahagia. Lalu, masalah spare part? Si Buleng itu sepertinya fleksibel. Banyak spare part merk lain yang bisa dikenakan si Buleng, terakhir, saya pasang shock belakang salah satu motor merk lain yang sangat cocok untuk postur tubuh saya yang gambot. Fleksibilitas inilah salah satu kebanggaan saya.Buat produsen si Buleng, terima kasih telah menciptakan motor hitam (silver) yang masih setia ini. Dengan si Buleng pula saya bisa memahami pentingnya kebersamaan dan persahabatan. Semoga kebersamaan dan persahabatan itu dapat menegaskan Anda selaku produsen, bahwa menciptakan Honda Karisma adalah tidak sia-sia.    

Komunitas

Lalu, sebagai pengendara Karisma, bagaimana opini saya mengenai kelangsungan hidup komunitas berbasis Honda Karisma? Ini justru pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Berkaca dari uraian saya di atas, kelangsungan hidup komunitas berbasis Honda Karisma tidak akan punah hanya karena motor tersebut tidak diproduksi lagi. Komunitas itu adalah satu kumpulan orang yang memiliki kebersamaan perasaaan. Perasaan apa? Perasaan yang menganggap Karisma adalah bagian dari hidup. Hasilnya? Tentunya rasa memiliki yang berlebih, tak mengapa tho? Bahagia? Tentu saja! Bayangkan kumpulan pengendara yang bahagia dengan Karismanya masing-masing. Indah bukan? Apa yang sebaiknya komunitas tersebut lakukan agar tetap eksis? Pertama, menjaga kebersamaan. Kedua, bermanfaat bukan hanya bagi anggotanya namun bagi orang banyak. Ketiga, mempertahankan hal pertama dan kedua. Setidaknya, ketiga hal itu yang perlu kita lakukan. Sederhana kan? Sejauh ini, komunitas Karisma dimana saya bernaung, sedang menuju ke arah yang benar, Alhamdulillah.

Kategori